Jadilah Pemuda Pembaharu

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli S.Psi CH CHt*
DAMBAAN semasa kecil, menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa, negara, dan kampung halaman. Itulah cita-cita yang diharapkan banyak orang. Realitas masyarakat di banua kita tercinta, banyak yang menyekolahkan anak-anaknya ke propinsi lain, yang menurut kaca mata orang kebanyakan adalah kota pendidikan. Entah itu Jogjakarta, Malang, atau kota lainnya.
Apabila ‘Anak Banua’ berbicara mengenai pendidikan tinggi mereka nanti, tidak sedikit di antaranya mencitakan agar bisa kuliah di luar pulau Kalimantan, khusunya ke pulau Jawa. Atau mungkin sebaliknya, mereka ‘dipaksa’ oleh orang tua menuntut ilmu di Jawa saja. Ada yang berusaha dengan belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus tes UMPTN, sebelumnya belajar keras agar lulus UN dengan nilai yang di atas rata-rata.
Tapi banyak juga di antara mereka hanya mengandalkan ‘doku’ orang tuanya yang sedikit tebal. Nggak perlu lah belajar yang keras, kalau hanya mau kuliah di Jawa, abah ulun kan pejabat. Banyak koneksi, banyak uang. Lain lagi jika orangnya pemalas, inginnya kuliah di Jawa, tapi keuangan orang tuanya pas-pasan. Ya jelas menggunakan ajian ‘menekan alias memaksa’ ortunya ngutang sana-sini, comot sana-sini.
Kalau dilihat dari sisi jumlah, sepertinya banyak juga mahasiswa yang kuliah di Jawa. Kalau mau dihitung prosentase antara mahasiswa yang pulang kampung dengan yang memilih menetap sebagai warga kota di Jawa, mungkin lebih banyak yang memilih tinggal di Jawa. Hingar bingar sambutan keilmuan pendidikan tinggi di Jawa jelas lebih kentara dibanding banua kita. Nah kalau semua mahasiswa yang kuliah di Jawa tidak balik ke banua, apa yang akan terjadi, saya kira pian tahu jawabannya.
Padahal untuk membangun banua diperlukan tenaga-tenaga yang handal dan cerdas segalanya, dari aspek positif tentunya. Maksud saya, mereka yang kuliah di Jawa bukan berarti lebih bagus kualitas out put-nya. Banua kita juga punya UNLAM yang semoga terus beranjak ke arah peningkatan kualitas. Belum lagi PTS yang jumlahnya lebih dari lima. Siap bekerja dan berkarya, bukan yang siap mencari lowongan pekerjaan. Tapi siap membuat perusahaan alias wirausaha atau menciptakan lapangan kerja yang menampung orang lain.
Karena yang namanya sarjana, dia adalah konseptor sebuah peradaban. Bukannya tenaga ecek-ecek yang selalu digilas roda peradaban. Yang sering ‘ditusuk hidungnya’ diam saja, ‘manut-manut wae’. Bagaimana jadinya kalau semua sarjana kita kualitasnya seperti ini. Dijajahlah untuk seri kedua. Siapa yang menjajah, pian berataan lebih tahu daripada saya.
Ingat lho, kata seorang tokoh, pendidikan bukanlah segalanya tetapi segala-galanya dimulai dari pendidikan. Dengan pendidikan, apalagi pendidikan tinggi, kita akan menciptakan peradaban baru. Harusnya mantan mahasiswa alias sarjana yang menjadi ‘anashiruttaghyir’ atau agent of change dalam setiap pengguliran yang mencita-citakan torehan peradaban baru yang mengarah ke kebaikan.
Sungguh-sungguhlah yang merasa mahasiswa dalam menempa diri ‘gasan’ kemajuan banua kita, negara kita, bahkan peradaban umat manusia. Jangan mau hanya jadi ’sapi perahan’ tapi jadilah mujaddid, sang pembaharu. Pemuda jangan hanya bisa ‘membebek’ saja, tetapi jadilah kalian sumber solusi bagi permasalahan yang timbul di sekitarmu, minimal. Keberadaanmu harus berarti. Jangan sampai ada dan tidaknya kamu, tidak membawa kebaikan ditengah masyarakat.
Pergaulan teman sebaya atau peer group bisa mengarah pada hal positif ataupun negatif, hal ini tergantung pemilihan nilai yang dianut oleh kelompok tadi. Pilih perilaku vandal atau perilaku sebaliknya, yang kesemuanya mengandung konsekuensi. Baik vandalisme group maupun pribadi positive group, mereka akan menggerakkan roda dakwah masing-masing untuk mencari pendukung gerakannya. Roda mereka akan terus menggilas siapa saja yang dilewatinya sampai mereka kuat untuk menggilasnya bahkan mungkin sampai hancur sekalipun sebagai konsekuensinya.
Sampeyan akan sakit jika digilas oleh banyak roda, baik roda positif maupun roda vandalisme. Roda vandal akan menggilas ke arah kehidupan nista, roda positif akan membawa kearah budi alias masuk syurga. Oleh karena itu, jadilah penggilas jangan mau hanya digilas terus oleh roda-roda tersebut. Ingat, pilihlah roda penggilas yang positif dan jangan pilih roda gilas vandalisme. Roda penggilas lah yang akan menorehkan sejarah peradaban manusia. Artinya, jadilah penggilas jika tidak mau digilas.

Tinggalkan sebuah Komentar

Belum ada komentar.

Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.